Langsung ke konten
FilmKini
Poster Revenge (2017)

Ulasan Revenge (2017): Thriller Genre yang Berkilau, Berdarah, dan Menggigit

Revenge (2017)

  • 18 November 2017
  • 1h 48m
  • French
  • R
  • Streaming

Jen sedang menikmati liburan romantis bersama kekasihnya yang kaya dan sudah beristri, ketika teman-teman sang kekasih datang untuk perjalanan berburu dadakan. Ketegangan menyelimuti rumah terpencil itu, dan akhir pekan tersebut berujung ke arah yang tak terduga oleh siapa pun.

Bagikan:
Ulasan

Oleh Site Admin · · 4 menit baca

Kami menonton film ini sampai selesai sebelum menulis ulasan. Skor kami tidak dipengaruhi kerja sama afiliasi apa pun. Poster dan foto adalah milik pemegang hak cipta masing-masing.

Tonton Trailer

Revenge — Official Trailer

Official Trailer

YouTube

6.5dari 10

Rating kami

  • Cerita6
  • Akting7
  • Visual7.5
  • Penyutradaraan7.5
  • Musik6

Cocok untuk: Penggemar thriller aksi bergaya visual kuat dan penuh darah

Cara kami memberi rating
Dalam artikel ini
  1. Ulasan Revenge: Ringkasan Cerita (Tanpa Spoiler)
  2. Kelebihan Revenge
  3. Pemeran dan Akting di Revenge
  4. Di Mana Revenge Tersandung
  5. Apakah Revenge Layak Ditonton?
  6. Siapa yang Akan Menikmati Revenge

Ulasan Revenge ini membahas thriller aksi berating R karya Coralie Fargeat, film berbahasa Prancis produksi Belgia yang dengan bangga menunjukkan akar genrenya. Dengan durasi ringkas 108 menit, film ini langsung menyasar ulu hati. Apakah kena atau tidak, tergantung selera Anda terhadap kekerasan bergaya visual.

Ulasan Revenge: Ringkasan Cerita (Tanpa Spoiler)

Plot balas dendamnya dimulai dengan sederhana. Jen (Matilda Lutz) pergi ke tempat peristirahatan mewah yang terpencil bersama Richard, kekasihnya yang kaya dan sudah beristri. Perjalanan ini dimaksudkan untuk privat dan memanjakan diri, beberapa hari penuh matahari, minuman, dan pelarian dari rutinitas.

Lalu teman-teman Richard datang lebih awal untuk perjalanan berburu yang tak pernah disebut sebelumnya. Suasana di rumah itu berubah. Fargeat membiarkan rasa tak nyaman menumpuk lewat tatapan, basa-basi penuh makna, dan pergeseran kuasa, hingga akhir pekan itu condong ke arah yang jauh lebih gelap.

Saya akan berhenti di sini. Babak pertama film ini adalah satu-satunya bagian yang layak dibahas sebelum Anda menontonnya, dan itu juga bagian terkuat dari pembukaannya. Tagline-nya, "Why do women always have to put up a fight?", sudah menunjukkan apa yang ingin diperdebatkan film ini.

Kelebihan Revenge

Fargeat menulis sekaligus menyutradarai, dan kendalinya atas nada film adalah aset terbesar Revenge. Ini adalah film fitur debut dengan identitas visual yang jelas. Warna-warna cerah yang jenuh dan komposisi gambar yang tajam membuat lanskap tandus sekalipun tampak seperti lukisan.

Film ini juga berkomitmen pada temanya. Film ini hendak menelaah male gaze, dan caranya dengan lebih dulu menunjukkan bagaimana para pria di sekitar Jen memandangnya. Kepercayaan diri dan tubuhnya tidak pernah menjadi masalah. Masalahnya adalah rasa berhak para pria yang merasa hal itu memberi mereka hak atas dirinya.

Berikut hal-hal lain yang menonjol:

  • Pengambilan gambar yang memukau. Latar dimanfaatkan seperti karakter, dan gambar lebar lanskap gersang membuat cerita terasa indah sekaligus tak ramah.

  • Akting utama yang fisik dan total. Jen tampak lelah, kotor, dan kehabisan tenaga seiring cerita berjalan, dan film ini tidak pernah mengglamorkannya.

  • Tempo yang efisien. Nyaris tak ada bagian yang mengisi waktu, dan cerita bergerak dari ketegangan ke aksi tanpa jeda panjang.

  • Simbolisme yang bertujuan. Motif visual muncul berulang sepanjang film, dan beberapa di antaranya terasa sangat kuat.

Penggemar ulasan film aksi yang kami bahas akan menemukan film yang memperlakukan genrenya dengan lebih cermat dibanding kebanyakan. Film ini meminjam dari sinema eksploitasi, tetapi menghadirkan keahlian dan sudut pandang dalam pengerjaannya.

Pemeran dan Akting di Revenge

Pemeran Revenge tidak banyak, dan film ini sangat bergantung pada Matilda Lutz. Ia memerankan Jen, dan menjalani peran yang menuntut, berubah dari ceria menjadi ketakutan hingga garang. Totalitas fisiknya membuat momen-momen paling ekstrem dalam cerita terasa meyakinkan, dan ia sanggup memikul adegan-adegan panjang nyaris tanpa dialog.

Kevin Janssens memerankan Richard, sang kekasih kaya, dengan pesona mulus yang cepat berubah menjadi busuk. Ia membuat karakter itu terasa berbahaya dengan cara yang sehari-hari, yang lebih meresahkan daripada penjahat kartun. Vincent Colombe berperan sebagai Stan, dan Guillaume Bouchède sebagai Dimitri. Keduanya meyakinkan dalam mengisi dinamika kelompok, meski naskah memberi mereka lapisan karakter yang lebih sedikit dibanding para pemeran utama.

Jean-Louis Tribes muncul sebagai Roberto, dan Barbara Gateau mengisi suara istri Richard. Peran mereka lebih kecil, tetapi membantu membangun dunia di sekitar Jen. Secara keseluruhan, aktingnya lebih baik daripada yang biasanya didapat genre ini, hal yang juga disebut beberapa pengulas dari kalangan penonton.

Di Mana Revenge Tersandung

Masalah terbesar film ini adalah keterpercayaan. Konflik utama yang menggerakkan semuanya terlalu berlebihan sehingga sebagian penonton akan kesulitan menerimanya. Jika Anda membutuhkan thriller yang membumi, eskalasinya bisa membuat Anda keluar dari cerita.

Adegan gore menjadi ganjalan lain. Film ini memakai darah dalam skala masif, dan meski gaya yang dilebih-lebihkan itu jelas disengaja, beberapa adegan terasa berlebihan. Beberapa penonton menyebut kekerasannya tidak berguna, dan saya paham keluhan itu, meski bagi saya kekerasannya lebih bergaya daripada gratis.

Karakter di luar Jen juga cukup tipis. Peran-peran pria lebih melayani tema ketimbang berfungsi sebagai manusia, dan itu membuat film terasa skematis di beberapa titik. Ini adalah kisah kriminal dengan garis moral yang sangat jelas, dan jarang sekali mempersulitnya.

Skor penonton 6,5 dari 10 dari lebih dari 2.200 suara di TMDB mencerminkan perpecahan ini. Sebagian pengulas menyebutnya kejutan yang sangat dibutuhkan genre ini, sementara yang lain menilai plotnya terlalu konyol untuk ditanggapi serius.

Apakah Revenge Layak Ditonton?

Ya, jika Anda sanggup menghadapi kekerasan yang intens dan menginginkan film genre yang stylish dan penuh amarah. Ulasan Revenge ini berujung pada satu poin sederhana. Film ini tidak halus dan tidak realistis, tetapi punya rasa percaya diri yang nyata serta akting utama yang membuat Anda terus terpikat.

Arahan Fargeat adalah alasan untuk menonton. Ia membuat pilihan berani dalam warna, framing, dan tempo, dan hasilnya terasa seperti sineas yang sedang memperkenalkan dirinya. Jika Anda menikmati Atlas King atau film kriminal keras sejenisnya, ini adalah versi yang lebih artistik.

Film ini tidak untuk semua orang. Penonton yang tidak suka adegan berdarah grafis, atau kesulitan dengan alur yang tak masuk akal, sebaiknya berpikir dua kali. Namun bagi penonton yang tepat, ini adalah tontonan yang tajam dan berkesan.

Siapa yang Akan Menikmati Revenge

  • Penggemar thriller aksi bergaya visual kuat dan sinema yang terinspirasi eksploitasi, yang menginginkan tontonan dengan pesan.

  • Penonton yang tertarik pada karya Coralie Fargeat dan film-film yang membahas male gaze secara langsung.

  • Siapa pun yang menyukai akting utama yang kuat dan fisik serta pembuatan film yang berani secara visual, dan sanggup menahan gore yang berat.

Kelebihan

  • Akting utama Matilda Lutz yang total dan penuh tenaga fisik
  • Sinematografi berani dengan warna jenuh serta lokasi yang memukau
  • Tempo ringkas dengan tujuan tematik yang jelas
  • Arahan Coralie Fargeat yang percaya diri

Kekurangan

  • Konflik utama sulit dipercaya
  • Adegan gore terasa berlebihan
  • Karakter pendukung kurang tergali

Kesimpulan Kami

Revenge adalah thriller yang stylish, penuh amarah, dan sangat berdarah, unggul lewat kerja kreatif yang apik serta akting utama yang menonjol. Kadar ekstrem dan alur yang tak masuk akal bisa membuat sebagian penonton ilfil.

Pemeran & Kru

Foto: TMDB, MTV International / CC BY 3.0 via Wikimedia Commons, Annemie Demaré / CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Revenge dirilis?

Revenge (2017) dirilis di bioskop pada 18 November 2017.

Siapa sutradara Revenge?

Revenge (2017) disutradarai oleh Coralie Fargeat.

Siapa saja pemeran Revenge?

Pemeran utamanya antara lain Matilda Lutz, Kevin Janssens, Vincent Colombe, Guillaume Bouchède, dan Jean-Louis Tribes.

Berapa durasi Revenge?

Revenge (2017) berdurasi 108 menit (1j 48m).

Apa rating usia Revenge?

Revenge (2017) berating R.

Di mana saya bisa menonton Revenge?

Ketersediaan streaming berbeda di tiap wilayah. Lihat kotak Where to Watch untuk pilihan terkini.

Apakah Revenge layak ditonton?

Layak, asalkan Anda sanggup menghadapi kekerasan grafis. Film ini menawarkan arahan yang percaya diri, visual memukau, dan akting utama yang kuat, meski alurnya sulit dipercaya.

Siapa saja bintang Revenge?

Matilda Lutz berperan sebagai Jen, bersama Kevin Janssens sebagai Richard, Vincent Colombe sebagai Stan, dan Guillaume Bouchède sebagai Dimitri.

Apakah Revenge cocok untuk anak-anak?

Tidak. Film ini berating R dan memuat kekerasan grafis yang berat serta tema dewasa.

S

Ditulis oleh

Site Admin

Site Admin has been writing about film for over a decade, with a soft spot for big-screen science fiction and character-driven dramas.

Laporkan kesalahan

Jelajahi Lainnya

Lihat semua